Selasa, 30 Juni 2015
Selasa, 16 Juni 2015
Mendidik anak ala Rasulullah Saw oleh Prof.DR. M Quraish Shihab
Pakar-pakar pendidikan di Indonesia menilai bahwa salah satu sebab utama kegagalan pendidikan kita karena para pendidiknya yang gagal. Padahal, salah satu syarat mutlak untuk keberhasilan pendidikan adalah dipilihnya pendidik yang baik. Nah, Rasulullah adalah suri tauladan yang terbaik, karenanya mari kita berkaca dari sepercik cara mendidik anak ala beliau.
Kita dalam hal ini berada dalam lingkaran setan, anak didik tidak berkualitas ternyata karena gurunya yang kurang bermutu, akhirnya pendidikannya gagal. Memang salah satu syarat mutlak untuk keberhasilan pendidikan adalah dipilihnya pendidik yang baik, yang sebelumnya perlu dididik pula. Sebenarnya kalau melihat ke sejarah Nabi, problema ini baru terselesaikan karena Allah Swt. turun tangan.
Anak didik dibentuk oleh empat faktor.
Pertama, ayah yang berperan utama dalam membentuk kepribadian anak. Bahkan, dalam Al-Quran hampir semua ayat yang berbicara tentang pendidikan anak, yang berperan adalah ayah.
Kedua, yang membentuk kepribadiannya juga adalah ibu;
ketiga, apa yang dibacanya (ilmu); dan
keempat, lingkungan.
Kalau ini baik, anak bisa baik, juga sebaliknya. Begitu pula baik-buruk kadar pendidikan kita.
Empat faktor ini belum tentu semuanya terwujud. Ketika Allah Swt. menetapkan bahwa Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya, maka yang membentuk kepribadiannya adalah Allah Swt. Sebab, bila diserahkan kepada masyarakat atau keluarga, maka ia tidak akan sempurna, bisa jadi keliru. Dalam hal ini, Tuhan yang melakukan, sedangkan masyarakat atau keluarga diberi peranan yang sangat sedikit. Itu sebabnya bila telah selesai peranan ayah, maka dia diambil-Nya meninggal dunia. Ini karena Tuhan tidak mau beliau dididik bapaknya. Begitu lahir dibawa ke desa dan ketika usia remaja baru ketemu ibunya. Namun, ibunya pun kemudian diambil-Nya. Selain itu, beliau lahir di lingkungan dengan gaya hidup yang terbelakang, bahkan hampir tidak tersentuh oleh peradaban. Padahal, waktu itu Mesir, Persia, dan India semunya sudah maju. Dalam hal ini, Allah Swt. ingin mendidik langsung beliau untuk menjadi pendidik, yakni figur yang diteladani bagaimana seharusnya mendidik. Itu sebabnya beliau bersabda, Addabanî Rabbî fa Ahsana Ta’dîbi (”Yang mendidik saya itu adalah Tuhan”). Juga, Bu’itstu Mu’alliman (”Saya diutus-Nya menjadi pengajar, pendidik”).
Kita ambil beberapa inti dari kisah hidup Rasulullah Saw. Beliau bersabda, “Bila ingin anak yang membawa namamu itu tumbuh berkembang dengan baik, maka pilih-pilihlah tempat kamu meletakkan spermamu, karena gen itu menurun”. Jadi, sebelum anak lahir kita harus memilih hal yang baik, karena gen ini mempengaruhi keturunan. Pakar pendidikan mengakui bahwa ada faktor genetik dan pendidikan. Walaupun mereka berbeda pendapat yang mana lebih dominan, namun yang jelas keduanya punya pengaruh. Penulis pribadi cenderung berpendapat yang lebih dominan itu sebenarnya pada pendidikan, bukan sperma (gen). Sebagai analogi, bila kita lagi sumpek, masakan kita bisa tidak enak. Di sini ada pengaruh dari emosi dan sikap pada saat membuat suatu masakan. Jadi, bila ingin anak yang baik, maka harus ditanamkan perasaan yang enak, harmonis, dan penuh keagamaan sewaktu memproduksinya. Ini berpengaruh kepada jabang bayi. Ketika membuatnya dalam situasi ketakutan, maka anaknya pun akan menjadi penakut. Anak yang lahir di luar nikah itu berbeda dengan anak yang lahir dari hubungan yang sah. Karena semua orang sadar dalam hati bahwa perzinahan itu buruk, maka hal ini nantinya dapat berpengaruh terhadap anak. Karena itu pula, Nabi Saw. memerintahkan untuk memilih tempat-tempat yang baik saat menanamkan sperma kita dan dianjurkan sebelumnya untuk membaca doa dan tidak dihantui rasa takut atau cemas.
Di dalam Al-Quran diterangkan, Nisâukum hartsun lakum (Isteri kamu adalah ladang buatmu). Di sini Al-Quran mengumpamakan suami sebagai “petani” dan isteri sebagai “ladang”. Kalau petani menanam tomat, apakah apel yang tumbuh? Siapa yang salah, bila si suami menghendaki anak laki-laki namun yang lahir perempuan, petani atau ladangnya? Tentu petani. Setelah ditanam, semestinya benih itu dipelihara. Bila ada hama, maka perlu dipupuk, disirami, dan dipelihara dengan baik. Setelah ada hasilnya, maka perlu dicuci dulu bila ingin dimakan. Dan bila ingin dijual, juga dibersihkan dulu dan dikemas sedemikian rupa agar dapat bermanfaat. Ini sebenarnya pelajaran dalam Al-Quran. Agar buah yang lahir dari kehidupan suami-isteri ini bisa membawa manfaat sebanyak mungkin, maka harus memperhatikan sang isteri (ibu). Dari sini, sekian banyak anjuran untuk memberikan makanan yang bergizi bagi seorang ibu. Di masa Nabi Saw, buah yang paling banyak adalah kurma. Kurma itu memiliki vitamin dan karbohidrat yang tinggi. Nabi Saw. berkata, “Isteri-isteri kamu yang sedang hamil, maka berilah ia kurma agar supaya anaknya lahir sehat dan gagah”.
Hal di atas menunjukkan bahwa jauh sebelum anak dilahirkan, ternyata Islam telah memiliki landasan dan tempat berpijak. Lalu, apa yang perlu diperankan orang tua sekarang?
Pertama, satu hal yang perlu digarisbawahi, begitu seorang anak lahir, Islam mengajarkan untuk diadzankan. Walaupun anak itu belum mendengar dan melihat, tapi ini memiliki makna psiko-keagamaan pada pertumbuhan jiwanya. Anak yang baru beberapa hari lahir, kalau ia ketawa, anda jangan menduga bahwa ia ketawa karena atau dengan ibunya, tapi karena ia merasakan kehadiran seseorang. Para pakar mengatakan demikian, karena ada orang yang lahir buta tetap tersenyum saat ibu mendekatinya. Jadi, seorang bayi memiliki rasa pada saat mendengar adzan, juga memiliki jiwa yang bisa berhubungan dengan sekelilingnya. Karena itu, adzan menjadi kalimat pertama yang diucapkan kepadanya. Dan, karena saat membacakan adzan seorang muadzin berhubungan dengan Tuhan, maka inilah yang memberikan dampak bagi perkembangan anak ke depan.
Kedua, sampai umur tujuh hari, kelahiran anak perlu disyukuri (’aqiqah). Kalau begitu, jangan sampai terbetik dalam pikiran ibu/bapak merasa tidak mau atau tidak membutuhkannya, karena saat itu sang anak sudah punya perasaan dan harus disambut dengan penuh syukur (’aqiqah). Misal, ada orang yang mengharapkan anak laki-laki, namun kemudian lahir anak perempuan, akhirnya ia kecewa serta tidak menerima dan menyukurinya. Semestinya perlu disyukuri, baik laki-laki maupun perempuan.
Ketiga, setelah ‘aqiqah, sang anak baru diberi nama yang terbaik karena dalam hadis disebutkan, “Di hari kemudian nanti orang-orang itu akan dipanggil dengan namanya”. Dalam hadis lain dijelaskan, “Nama itu adalah doa dan nama itu bisa membawa pada sifat anak kemudian”. Jadi, pilihlah nama yang baik untuknya.
Nama itu adalah sebuah doa yang menyandangnya. Ada ilustrasi, sebelum perang Badar (2 H.). berkecamuk, ada duel perorangan antara kaum muslim dan musyrik. Ali, Hamzah, dan ‘Ubaidah dari pihak kaum muslim, sedangkan dari pihak kaum musyrik yaitu ‘Utbah, Al-Walid dan Syaibah. Ali (yang tinggi) melawan Utbah (orang yang kecil). Hamzah (singa) berhadapan dengan Syaibah (orang tua). Al-Walid (anak kecil) berhadapan dengan ‘Ubaidah (hamba yang masih kecil). Bisa dibayangkan, bagaimana kalau orang yang tinggi besar berhadapan dengan anak kecil atau orang yang dijuluki “singa” dengan orang tua, siapa yang menang? Yang terjadi, Ali dan Hamzah berhasil membunuh lawannya, sedangkan Ubaidah dan al-Walid tidak ada yang terbunuh hanya keduanya terluka.
Nabi Saw. dipilihkan oleh Allah semua nama yang baik dan sesuai, karena ia adalah doa bagi yang menyandangnya. Misal, Nabi memiliki ibu bernama Aminah (yang memberi rasa aman) dan ayahnya Abdullah (hamba Allah). Yang membantu melahirkan Nabi namanya As-Syaffa (yang memberikan kesehatan dan kesempurnaan). Yang menyusuinya adalah Halimah (perempuan yang lapang dada), jadi Nabi dibesarkan oleh kelapangan dada. Anjuran untuk memilih nama yang mengandung doa juga dimaksudkan agar jangan sampai menimbulkan rasa rendah diri pada sang anak.
Keempat, mendidik anak bagi Nabi Saw. adalah menumbuhkembangkan kepribadian sang anak dengan memberikan kehormatan kepadanya, sehingga beliau sangat menghormati anak-cucunya. Bila memang sejak kecil ia sudah memiliki perasaan, maka jangan sampai ada perlakuan yang menjadikannya merasa terhina. Allah merahmati seseorang yang membantu anaknya untuk berbakti kepada orang tuanya. Nabi Saw. pernah ditanya, “Bagaimana seseorang membantu anaknya supaya ia berbakti?”, Nabi berkata: “Janganlah ia dibebani (hal) yang melebihi kemampuannya, memakinya, menakut-nakutinya, dan menghinanya”.
Ada sebuah riwayat, seorang anak lelaki digendong oleh Nabi dan anak itu pipis, lantas ibunya langsung merebut anaknya itu dengan kasar. Nabi kemudian bersabda, “Hai, bajuku ini bisa dibersihkan oleh air, tetapi hati seorang anak siapa yang bisa membersihkan”. Riwayat lain menyebutkan bahwa Nabi berkata, “Jangan, biarkan ia kencing”. Dari hal ini, muncul ketentuan, bila anak laki-laki kencing cukup dibasuh, sedangkan bila anak perempuan dicuci dengan sabun. Riwayat tadi memberi pelajaran bahwa sikap kasar terhadap seorang anak dapat mempengaruhi jiwanya sampai kelak ia dewasa.
Namun sisi lain, ada satu hal di mana Nabi sangat hati-hati dalam persoalan anak. Ketika Nabi lagi di masjid, ada orang yang kirim kurma, kemudian cucunya datang dan mengambil sebuah kurma lalu dimakannya. Nabi bertanya kepada ibunya, “Ini anak tadi mengambil kurma dari mana?” Sampai akhirnya, dipanggilnya Saidina Hasan dan dicongkel kurma dari mulutnya. Ini maknanya apa? Nabi tidak mau anak cucunya itu memakan sesuatu yang haram, walaupun ia masih kecil dan tidak ada dosa baginya, karena itu akan memberikan pengaruh kepadanya kelak ia besar.
Ada cerita dari pengalaman seorang ibu yang pendidikannya hanya sampai SD dan memiliki 13 anak, tetapi semuanya berhasil. Suatu ketika, ada orang yang bertanya kepada si ibu itu, “Doa apa yang dipakai ibu sehingga semuanya berhasil?” Jawabnya, “Saya dan suami saya tidak banyak berdoa. Tapi, bila anak saya bersalah atau saya tidak senang perbuatannya, saya selalu berkata, “Mudah-mudahan Tuhan memberimu petunjuk”. Jadi, anak ini tidak dimaki, dikutuk, atau dimarahi. Dan, kami kedua orang tuanya tidak pernah memberi makan mereka dengan makanan yang haram”.
Kamis, 12 Maret 2015
MENGGAPAI HIDUP BAHAGIA
Siapapun dan apapun jabatan kita, berapapun harta yang kita miliki, di manapun kita berada, sesungguhnya capaian puncak kehidupan adalah kebahagiaan. Siapapun orangnya itulah yang dicari. Bahwa mungkin melalui kekayaan, melalui kedudukan, melalui kesejahteraan, tetapi ending pointnya adalah kebahagiaan. Kebahagiaan adalah kesenangan batin yang bersifat permanen, dan relative dalam jangka panjang. Kebahagiaan adalah sesuatu yang membuat orang serba nyaman dalam menjalani kehidupan. Apakah kaya, atau miskin, apakah dia punya jabatan atau tidak, mereka yang berbahagia, pastilah dia enjoy, rileks, tenang, senang, nyaman dan merasa aman dalam menjalani hidup ini. Dengan demikian bagi orang yang beriman tentu ibadahnya semakin bagus. Akan sangat berbeda orang yang sama-sama beriman bahagia dengan yang tidak, kualitas ibadahnya berbeda. Yang tidak bahagia dalam menjalani ibadah mungkin hanya sekedar atau cuma ikut-ikutan, sehingga terasa kering kehidupannya. Sedang yang bahagia tentu akan mengarah kepada kualitas lebih baik.
Pada awal bulan Maret kemaren lembaga survey dari Canada mengadakan penelitian. Lembaga ini adalah lembaga survey internasional yang diakui kredibilitasnya. Dia mengadakan survey terhadap penduduk di 24 negara. Dengan responden sekitar 18 ribu orang. Lembaga ini ingin mengetahui negara mana yang penduduknya merasa paling bahagia. Dan hasilnya sangat mengejutkan. Karena lembaga ini menyimpulkan, bahwa bangsa yang paling bahagia di dunia ini adalah bangsa Indonesia. Yang lebih mengejutkan lagi, di samping rankingnya nomor satu, nilainya di atas 60%. Ranking kedua India, tetapi di bawah 50%. Ranking ketiga, Meksiko, 40%. Sedang ranking paling bawah adalah Hongaria. Ranking dua dari bawah adalah Korea Selatan. Dan yang amat mencengangkan adalah negera Amerika, Inggris, Prancis, Italia, Jerman, Jepang, termasuk negara-negara yang tidak bahagia, yang prosentasenya di bawah 10%. Padahal kita ketahui bahwa kita bangsa Indonesia mengagumi mereka, meniru mereka, membangga-mbanggakan mereka. Apa yang dia katakanya dan diperbuat, kita tiru agar kita juga dikatakan maju dan modern. Kita merasa bangga kalau sudah meniru apa yang mereka perbuat. Sampai-sampai mereka memakai pakaian nggembel juga ditiru. Padahal dengan survey itu membuktikan, bahwa mereka yang kaya materi, pada umumnya tidak merasa bahagia. Karena pada umumnya orang kaya itu merasa kurang, bahkan di negara-negara yang kaya, banyak kasus bunuh diri. Dan tentu kita tahu, bahwa orang yang bunuh diri itu tentu susah, gelisah, artinya tidak bahagia. Di Jepang banyak kasus bunuh diri. Bahkan di negara Korea, ada seorang pemilik pabrik mobil mati bunuh diri. Di Amerika pernah ada survey membuktikan bahwa angka kematian di sana pernah mencapai 36 persen bunuh diri, jadi kalau ada orang mati sebanyak 100 orang, yang 36 orang mati dengan cara bunuh diri.
Dari survey itu ternyata, rata-rata yang mengaku bahagia adalah orang yang tingkat ekonominya menengah ke bawah. Atau bisa dikatakan orang miskin. Begitu juga di negara lain. Kita patut bersyukur kepada Allah SWT, di mana negara yang mayoritas penduduknya Islam ini, bahkan komunitas muslim terbesar di dunia ini adalah yang paling bahagia. Apapun, dan bagaimanapun yang terjadi dalam kehidupan. Yang jelas, bahagia atau tidak, indikasinya bukan jabatan, bukan kekayaan, tetapi sikap hidup. Oleh karena itu, marilah kita perbaiki, kita evaluasi, sikap hidup kita, supaya bisa merasa bahagia. Karena itulah yang sesungguhnya kita cari dalam hidup ini. Yang ideal kaya dan bahagia, tetapi yang seperti ini tidak banyak. Kalau bisa jangan miskin tidak bahagia. Islam tidak menganjurkan miskin atau kaya, tetapi Islam menganjurkan berbagi (ith’aamul miskiin).
Setelah saya telisik, saya renungkan terhadap hasil survey tersebut, saya menemukan dua poin yang menjadi bangsa Indonesia bahagia.
Pertama, bangsa Indonesia yang mayoritas muslim ini punya karakter sosial Qanaah (menerima apa adanya). Umumnya orang Indonesia qanaah, tidak gampang mengeluh, nriman, seleh,apapun yang terjadi. Sehingga apapun yang terjadi jika itu sudah terjadi, maka diterima dengan rela. Mengapa bisa menerima? Karena bertaqwa, berTuhan, mempunyai kesadaran agama. Untuk itu, saya mengajak untuk bisa mempunyai karakter seperti ini. Contoh simpelnya, jika suatu saat kita tidak punya uang, maka jika kita menerima atau tidak menerima, tetap tidak punya uang. Karena sama-sama tidak mempunyai uang, maka akan menguntungkan jika bersikap menerima dengan lapang dada, kemudian berusaha, daripada berkeluh kesah, sambat, ngresulo, yang ujungnya akan meyiksa diri sendiri. Memang tetap tidak punya uang, tetapi hati ini akan ridho, lapang, legowo. Dan inilah yang dinamakan hati yang bahagia. Begitu juga jika pada suatu saat terkena musibah, sakit dlsb. Jadi menanamkan jiwa qanaah (menerima apa adanya) dalam kondisi menyenangkan atau tidak menyenangkan, hendaknya diterima.
Kedua, bangsa Indonesia yang mayoritas muslim ini punya karakter sosial Syukur. Bahkan ada anekdot, kalau ada orang kakinya terantuk kerikil, dia katakana : “Alhamdulillah hanya terantuk”. Kalau kemudian berdarah dia masih mengatakan : “Alhamdulillah hanya berdarah”. Kalau kemudian menjadi luka, dia masih juga mengatakan : “Alhamdulillah hanya luka”. Kalau dia jatuh kemudian kakinya patah, dia juga masih mengatakan : “Alhamdulillah hanya patah”. Bahkan sampai parah pun dia masih juga ada kata syukurnya. Walaupun ini cuma anekdot, tetapi ini pantas menjadi karakter bangsa Indonesia. Sikap seperti inilah dalam rangka memupuk rasa syukur, di mana ini merupakan puncak kebahagiaan. Di dunia ini, orang yang paling bahagia adalah orang yang pandai bersyukur. Bukan yang paling tinggi pangkatnya, bukan yang paling banyak hartanya, bukan yang paling ganteng atau cantik. Allah SWT menjanjikan orang yang pandai bersyukur akan ditambah nikmat yang ada padanya. (QS Ibrahim : 7).Yang maknanya : “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Dua tahun lalu ada eksperimen di Amerika. Eksperimen ini memperlakukan sebanyak 60 orang penderita sakit jantung dalam stadium yang sama. 60 orang ini dibagi dua. 30 orang pertama, diobati dengan medis murni. Dan 60 kedua disamping diobati dengan medis seperti kelompok pertama, juga diberi tambahan motivasi untuk bersyukur. Artinya diberi pengertian agar mereka bersyukur atas sakit yang diderita. Dikatakan kepada mereka : “Yang anda derita kan jantung, tetapi anggota badan ada kan tidak, seperti mata, telinga, kaki, kepala dll kan tetap sehat, kenapa yang anda ingat hanya yang sakit, sementara anggota badan yang lain yang tidak sakit tidak diingat-ingat? maka dari itu anda perlu bersyukur, coba anda bayangkan jika seluruh anggota badan anda sakit semua”. Jadi, intinya disuruh mengingat-ingat anggota badan yang sehat, agar di lupa akan jantungnya yang sakit. Dan ternyata hasilnya cukup menakjubkan, yang diobati murni medis, yang sembuh hanya 1/3, sedang yang diberi tambahan motivasi yang sembuh lebih 2/3. Dengan demikian sikap mental inilah sesungguhnya bisa menjadikan obat sekaligus pencegah sakit.
Rabu, 14 Mei 2014
7 SIFAT YANG HARUS DIMILIKI SEORANG PEMIMPIN
Pemateri : KH. Drs. Qomaruddin, MA.
Setiap orang dalam kehidupan yang fana ini, mempunyai fungsi kepemimpinan, menjadi pemimpin di lingkungannya masing-masing, seperti firman Allah Ta’ala yang dibacakan di awal khutbah tadi. Mengingat besarnya tanggung jawab menjadi pemimpin di dalam lingkungan masing-masing, sesuai dengan ruang lingkup dan daerah teritorial masing-mssing, maka syarat-syarat, sifat-sifat dan akhlak untuk menjadi pemimpin haruslah dimiliki dan dikembangkan.
Pada kesempatan ini, ingin kita uraikan akhlak daripada kepemimpinan yang diperlukan, yang dituangkan oleh khalifah pertama Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu, tatkala beliau dilantik menjadi kepala pemerintahan setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wafat. Pidato tersebut adalah sebagai berikut:
Amma ba’du, saudaraku sekalian.., sesungguhnya aku telah terpilih sebagai pimpinan atas kalian dan bukanlah aku yang terbaik diantara kalian, maka jika aku berbuat kebaikan bantulah aku. Dan jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah, sementara dusta adalah suatu pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian sesungguhnya kuat di sisiku hingga aku dapat mengembalikan haknya kepadanya Insya Allah. Sebaliknya siapa yang kuat di antara kalian maka dialah yang lemah di sisiku hingga aku akan mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah akan timpakan kepada mereka suatu kehinaan, dan tidaklah suatu kekejian menyebar di tengah suatu kaum kecuali adzab Allah akan ditimpakan kepada seluruh kaum tersebut. Patuhilah aku selama aku mematuhi Allah dan RasulNya. Tetapi jika aku tidak mematuhi keduanya maka tiada kewajiban taat atas kalian terhadapku. Sekarang berdirilah kalian untuk melaksanakan shalat semoga Allah merahmati kalian… (Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyah 4/413-414, tahqiq Hamma Sa’id dan Muhammad Abu Suailik)
Dari pidato kenegaraaan khalifah yang pertama itu, dapat disimpulkan 7 macam akhlak kepemimpinan yang perlu dipersunting oleh setiap orang yang akan memegang pimpinan. Dan juga bagi yang memegang pimpinan yang bertanggung jawab, baik pemimpin lingkungan maupun masyarakat, terlebih pemimpin Negara.
Marilah kita uraikan tujuh akhlak atau sifat tersebut satu persatu.
1. Sifat Rendah Hati.
Banyak para pemimpin yang mulanya dekat dengan rakyat, turun ke bawah, integrasi kepada kaum yang lemah, tapi begitu mempunyai kedudukan, timbullah apa yang disebutkan dalam peribahasa “Kalau hari sudah panas, kacang lupa kulitnya”. Sifat sombong, congkak, tinggi hati sudah mulai nampak, bukan hanya sekedar itu saja, terkadang dia sampai hati menginjak duduk orang yang telah mengorbitkannya atau menaikkannya. Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu menyatakan bahwa pada hakekatnya kedudukan pemimpin tidak berbeda daripada rakyat biasa, bukan karena ia orang istimewa. Tapi hanya sekedar orang yang didahulukan selangkah, yang mendapatkan kepercayaan dan dukungan orang banyak. Di atas pundaknya terpikul satu tanggung jawab yang besar dan berat baik terhadap umat, masyarakat pada umumnya, terlebih lagi terhadap Allah Ta’ala. Sifat rendah hati bukanlah merendahkan kedudukan seorang pemimpin, malah sebaliknya akan mengangkat derajatnya, martabatnya dalam pandangan masyarakat dan orang banyak.
2. Mengharapkan Dukungan dan Bersifat Terbuka untuk Dikritik.
Setiap pemimpin memerlukan dukungan dan partisipasi rakyat banyak. Bagaimanapun kemampuannya ia tak akan bisa melaksanakan tugas-tugasnya tanpa partisipasi orang banyak. Jika orang banyak tersebut bersifat apatis, tak mau tahu, masa bodoh terhadap segala anjuran dan tindakannya, maka hal yang demikian merupakan tantangan yang berat. Oleh sebab itulah, seorang pemimpin harus terbuka untuk menerima kritik, asal saja sifat kritik itu sehat dan membangun. Janganlah orang yang melontarkan kritik tersebut dianggap sebagai lawan yang perlu dibungkam. Bahkan orang yang berani mengungkapkan kritik, menunjukkan kesalahan, kekurangan seorang pemimpin, justru itulah yang merupakan pastisipasi sejati.
3. Sifat Jujur dan Memegang Amanah.
Sifat amanah yaitu dipercaya. Dan memelihara kepercayaan orang banyak adalah salah satu sifat kepemimpinan Islam yang penting. Islam mewajibkan kepada setiap muslim dan muslimah untuk menjaga dan memelihara amanah. Seperti yang dijelaskan di dalam al-Qur’anul karim.
Secara garis besar, ruang lingkup pemeliharaan amanah terbagi menjadi tiga. Pertama, amanah terhadap Allah Ta’ala. Kedua, amanah terhadap sesama makhluk terutama kepada manusia. Ketiga, amanah terhadap diri sendiri.
Memelihara amanah merupakan urat nadi antar hubungan. Apabila amanah itu rusak, maka terurailah segala ikatan, hubungan, putuslah tali temali tujuan yang baik, tata susunan kehidupan akan berantakan, dan pembinaan masyarakat insani akan mengalami kehancuran. Penyelewengan terhadap suatu amanah bukan saja merugikan orang yang terkena penyelewengan tersebut, tetapi akan mempunyai akibat mata rantai yang buruk di dalam kehidupan masyarakat. Dalam pengertian memelihara amanah adalah menyerahkan sesuatu urusan atau tanggungjawab kepada orang-orang yang mampu dan cakap, serta memenuhi persyaratan.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Sebab itu, seorang pemimpin harus berlaku jujur. Imam Al-Ghazali membagi sifat jujur menjadi enam macam; jujur dalam perkataan, kemauan, niat, memenuhi tekad, perbuatan, menegakkan kebenaran serta menjalankan syare’at Islam.
4. Berlaku Adil.
Adil ialah menimbang dan memperlakukan sesuatu dengan cara yang sama dan serupa, tidak pincang dan berat sebelah. Lawannya adalah zhalim. Islam meletakkan soal menegakkan keadilan dan menjauhi kezhaliman sebagai satu sikap hidup yang esensial. Allah Ta’ala memerintahkan sesara umum di dalam alquran:
Keadilah haruslah diterapkan dalam segala bidang kehidupan tanpa memandang orangnya, bahkan juga harus berlaku adil terhadap dirinya sendiri. Abu Bakar Ash-Shiddiq menegaskan bahwa orang yang lemah haruslah dibela dan dilindungi. Orang-orang yang kuat tidak boleh berlaku kejam dan sewenang-wenang.
5. Komitmen dalam Perjuangan.
Seorang pemimpin haruslah bersikap konsisten dalam perjuangan. Yaitu terus menerus dan lestari dalam berjuang. Jangan acak-acakkan, pada satu waktu semangat tak kunjung padam dan tak kenal menyerah, tapi pada waktu yang lain mlempem dan mudah dijinakkan. Dalam suatu perjuangan menegakkan cita-cita dan kebenaran, pasti akan berjumpa dengan halangan dan tantangan. Halangan tersebut haruslah diatasi, jangan hanya dielakkan, terlebih mundur dan meninggalkan medan perjuangan, hilang tak tentu rimbanya. Disinyalir oleh khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam pidatonya di atas, bahwa orang yang meninggalkan medan juang, apalagi kalau sampai berkhianat, maka ia akan ditimpa kehinaan seumur hidupnya.
6. Ditaati dan Bersikap Proporsional.
Seorang pemimpin haruslah mengabdikan dirinya kepada misi yang dipercayakan di atas pundaknya. Ia harus mempunyai wibawa terhadap umat yang dipimpinnya, dipatuhi. Jangan ketika berhadap-hadapan muka pengikutnya mengangguk-anggukan kepala dan mengatakan “ya”, karena takut. Sedang apabila di belakangnya mereka mengatakan “tidak”. Seorang pemimpin harus bersedia dan siap mundur apabila ia melakukan penyelewengan. Jangan terus menerus mempertahankan kedudukannya.
7. Berbakti dan Mengabdi kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kepemimpinan bersifat manusiawi, mempunyai kekurangan-kekurangan disamping juga mempunyai kelebihan-kelebihan yang menentukan pada tingkat terakhir yaitu petunjuk ilahi dan garis-garis yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu, seorang pemimpin harus senantiasa menghubungkan dirinya kepada Allah, berbakti kepada-Nya, melaksanakan segala sesuatu yang diridhai-Nya dan menjauhi segala hal yang dimurkai-Nya. Hasil dari sikap berbakti kepada Allah, akan menempa setiap orang terlebih pemimpin agar mempunyai sikap keseimbangan dan istiqamah dalam setiap situasi dan kondisi. Ridha menerima apa yang dapat dicapai, bersyukur apabila mencapai hasil, dan bersabar menghadapi tantangan demi tantangan.
Demikianlah 7 macam sifat kepemimpinan islam yang dapat dipetik dari khutbah khalifah pertama, dan terutama sekali ditujukan kepada yang akan memegang pimpinan dan juga sedang memegang pimpinan.
الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين
كله ولو كره المشركون. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن
محمدا عبده ورسوله ، اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه
أجمعين، أما بعد.
فياعباد الله أوصيكم وإياي بتقوى الله فقد فاز المتقون. قال
الله تعالى في القرأن العظيم: {وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ
بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ
الصَّلَاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ (الأنبياء:
73)
Ma’asyiral muslimin sidang jum’at Rahimakumullahu,Setiap orang dalam kehidupan yang fana ini, mempunyai fungsi kepemimpinan, menjadi pemimpin di lingkungannya masing-masing, seperti firman Allah Ta’ala yang dibacakan di awal khutbah tadi. Mengingat besarnya tanggung jawab menjadi pemimpin di dalam lingkungan masing-masing, sesuai dengan ruang lingkup dan daerah teritorial masing-mssing, maka syarat-syarat, sifat-sifat dan akhlak untuk menjadi pemimpin haruslah dimiliki dan dikembangkan.
Pada kesempatan ini, ingin kita uraikan akhlak daripada kepemimpinan yang diperlukan, yang dituangkan oleh khalifah pertama Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu, tatkala beliau dilantik menjadi kepala pemerintahan setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wafat. Pidato tersebut adalah sebagai berikut:
Amma ba’du, saudaraku sekalian.., sesungguhnya aku telah terpilih sebagai pimpinan atas kalian dan bukanlah aku yang terbaik diantara kalian, maka jika aku berbuat kebaikan bantulah aku. Dan jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah, sementara dusta adalah suatu pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian sesungguhnya kuat di sisiku hingga aku dapat mengembalikan haknya kepadanya Insya Allah. Sebaliknya siapa yang kuat di antara kalian maka dialah yang lemah di sisiku hingga aku akan mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah akan timpakan kepada mereka suatu kehinaan, dan tidaklah suatu kekejian menyebar di tengah suatu kaum kecuali adzab Allah akan ditimpakan kepada seluruh kaum tersebut. Patuhilah aku selama aku mematuhi Allah dan RasulNya. Tetapi jika aku tidak mematuhi keduanya maka tiada kewajiban taat atas kalian terhadapku. Sekarang berdirilah kalian untuk melaksanakan shalat semoga Allah merahmati kalian… (Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyah 4/413-414, tahqiq Hamma Sa’id dan Muhammad Abu Suailik)
Dari pidato kenegaraaan khalifah yang pertama itu, dapat disimpulkan 7 macam akhlak kepemimpinan yang perlu dipersunting oleh setiap orang yang akan memegang pimpinan. Dan juga bagi yang memegang pimpinan yang bertanggung jawab, baik pemimpin lingkungan maupun masyarakat, terlebih pemimpin Negara.
1. Sifat Rendah Hati.
Banyak para pemimpin yang mulanya dekat dengan rakyat, turun ke bawah, integrasi kepada kaum yang lemah, tapi begitu mempunyai kedudukan, timbullah apa yang disebutkan dalam peribahasa “Kalau hari sudah panas, kacang lupa kulitnya”. Sifat sombong, congkak, tinggi hati sudah mulai nampak, bukan hanya sekedar itu saja, terkadang dia sampai hati menginjak duduk orang yang telah mengorbitkannya atau menaikkannya. Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu menyatakan bahwa pada hakekatnya kedudukan pemimpin tidak berbeda daripada rakyat biasa, bukan karena ia orang istimewa. Tapi hanya sekedar orang yang didahulukan selangkah, yang mendapatkan kepercayaan dan dukungan orang banyak. Di atas pundaknya terpikul satu tanggung jawab yang besar dan berat baik terhadap umat, masyarakat pada umumnya, terlebih lagi terhadap Allah Ta’ala. Sifat rendah hati bukanlah merendahkan kedudukan seorang pemimpin, malah sebaliknya akan mengangkat derajatnya, martabatnya dalam pandangan masyarakat dan orang banyak.
2. Mengharapkan Dukungan dan Bersifat Terbuka untuk Dikritik.
Setiap pemimpin memerlukan dukungan dan partisipasi rakyat banyak. Bagaimanapun kemampuannya ia tak akan bisa melaksanakan tugas-tugasnya tanpa partisipasi orang banyak. Jika orang banyak tersebut bersifat apatis, tak mau tahu, masa bodoh terhadap segala anjuran dan tindakannya, maka hal yang demikian merupakan tantangan yang berat. Oleh sebab itulah, seorang pemimpin harus terbuka untuk menerima kritik, asal saja sifat kritik itu sehat dan membangun. Janganlah orang yang melontarkan kritik tersebut dianggap sebagai lawan yang perlu dibungkam. Bahkan orang yang berani mengungkapkan kritik, menunjukkan kesalahan, kekurangan seorang pemimpin, justru itulah yang merupakan pastisipasi sejati.
3. Sifat Jujur dan Memegang Amanah.
Sifat amanah yaitu dipercaya. Dan memelihara kepercayaan orang banyak adalah salah satu sifat kepemimpinan Islam yang penting. Islam mewajibkan kepada setiap muslim dan muslimah untuk menjaga dan memelihara amanah. Seperti yang dijelaskan di dalam al-Qur’anul karim.
إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤدُّواْ الأَمَانَاتِ إِلَى
أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُواْ بِالْعَدْلِ
إِنَّ اللّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ إِنَّ اللّهَ كَانَ سَمِيعاً
بَصِيراً (النساء: 58)
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di
antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah
memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah
adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (An-Nisa’: 58)Secara garis besar, ruang lingkup pemeliharaan amanah terbagi menjadi tiga. Pertama, amanah terhadap Allah Ta’ala. Kedua, amanah terhadap sesama makhluk terutama kepada manusia. Ketiga, amanah terhadap diri sendiri.
Memelihara amanah merupakan urat nadi antar hubungan. Apabila amanah itu rusak, maka terurailah segala ikatan, hubungan, putuslah tali temali tujuan yang baik, tata susunan kehidupan akan berantakan, dan pembinaan masyarakat insani akan mengalami kehancuran. Penyelewengan terhadap suatu amanah bukan saja merugikan orang yang terkena penyelewengan tersebut, tetapi akan mempunyai akibat mata rantai yang buruk di dalam kehidupan masyarakat. Dalam pengertian memelihara amanah adalah menyerahkan sesuatu urusan atau tanggungjawab kepada orang-orang yang mampu dan cakap, serta memenuhi persyaratan.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ:
كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ
إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.
“Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat.” Dia (Abu Hurairah) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?’ Beliau menjawab: ‘Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat!.” (Shahiih al-Bukhari, kitab ar-Riqaaq, bab Raf’ul Amaanah (XI/333, dalam al-Fat-hul)Sebab itu, seorang pemimpin harus berlaku jujur. Imam Al-Ghazali membagi sifat jujur menjadi enam macam; jujur dalam perkataan, kemauan, niat, memenuhi tekad, perbuatan, menegakkan kebenaran serta menjalankan syare’at Islam.
4. Berlaku Adil.
Adil ialah menimbang dan memperlakukan sesuatu dengan cara yang sama dan serupa, tidak pincang dan berat sebelah. Lawannya adalah zhalim. Islam meletakkan soal menegakkan keadilan dan menjauhi kezhaliman sebagai satu sikap hidup yang esensial. Allah Ta’ala memerintahkan sesara umum di dalam alquran:
إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء
ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (النحل:90)
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat
kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran
kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (An-Nahl: 90)Keadilah haruslah diterapkan dalam segala bidang kehidupan tanpa memandang orangnya, bahkan juga harus berlaku adil terhadap dirinya sendiri. Abu Bakar Ash-Shiddiq menegaskan bahwa orang yang lemah haruslah dibela dan dilindungi. Orang-orang yang kuat tidak boleh berlaku kejam dan sewenang-wenang.
5. Komitmen dalam Perjuangan.
Seorang pemimpin haruslah bersikap konsisten dalam perjuangan. Yaitu terus menerus dan lestari dalam berjuang. Jangan acak-acakkan, pada satu waktu semangat tak kunjung padam dan tak kenal menyerah, tapi pada waktu yang lain mlempem dan mudah dijinakkan. Dalam suatu perjuangan menegakkan cita-cita dan kebenaran, pasti akan berjumpa dengan halangan dan tantangan. Halangan tersebut haruslah diatasi, jangan hanya dielakkan, terlebih mundur dan meninggalkan medan perjuangan, hilang tak tentu rimbanya. Disinyalir oleh khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam pidatonya di atas, bahwa orang yang meninggalkan medan juang, apalagi kalau sampai berkhianat, maka ia akan ditimpa kehinaan seumur hidupnya.
6. Ditaati dan Bersikap Proporsional.
Seorang pemimpin haruslah mengabdikan dirinya kepada misi yang dipercayakan di atas pundaknya. Ia harus mempunyai wibawa terhadap umat yang dipimpinnya, dipatuhi. Jangan ketika berhadap-hadapan muka pengikutnya mengangguk-anggukan kepala dan mengatakan “ya”, karena takut. Sedang apabila di belakangnya mereka mengatakan “tidak”. Seorang pemimpin harus bersedia dan siap mundur apabila ia melakukan penyelewengan. Jangan terus menerus mempertahankan kedudukannya.
7. Berbakti dan Mengabdi kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kepemimpinan bersifat manusiawi, mempunyai kekurangan-kekurangan disamping juga mempunyai kelebihan-kelebihan yang menentukan pada tingkat terakhir yaitu petunjuk ilahi dan garis-garis yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu, seorang pemimpin harus senantiasa menghubungkan dirinya kepada Allah, berbakti kepada-Nya, melaksanakan segala sesuatu yang diridhai-Nya dan menjauhi segala hal yang dimurkai-Nya. Hasil dari sikap berbakti kepada Allah, akan menempa setiap orang terlebih pemimpin agar mempunyai sikap keseimbangan dan istiqamah dalam setiap situasi dan kondisi. Ridha menerima apa yang dapat dicapai, bersyukur apabila mencapai hasil, dan bersabar menghadapi tantangan demi tantangan.
Demikianlah 7 macam sifat kepemimpinan islam yang dapat dipetik dari khutbah khalifah pertama, dan terutama sekali ditujukan kepada yang akan memegang pimpinan dan juga sedang memegang pimpinan.
بارك الله لي ولكم فى القرأن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من
الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفرالله العظيم لي ولكم ،
ولوالديّ ولوالديكم ولسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات،
فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم
الحمد لله رب العالمين وبه نستعينه على أمور الدنيا والدين .
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله ،
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه أجمعين، أما بعد.
فياعباد الله أوصيكم وإياي بتقوى الله فقد فاز المتقون. قال
الله تعالى : أعوذ بالله من الشيطان الرجيم : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (آل عمران :102(
قال عز من قائل: إن الله وملائكته يصلون على النبي يآأيها الذين ءامنوا صلوا عليه وسلموا تسليما
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى
آل إبراهيم و بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل
إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد. اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات
والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات.
اللهم أعز الإسلام والمسلمين، اللهم أعز الإسلام والمسلمين،
اللهم أعز الإسلام والمسلمين وأهلك الكفرة الظالمين . ربنا هب لنا من
أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما. ربنا آتنا في الدنيا
حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. عباد الله، إن الله يأمر باالعدل
والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم
تذكرون. ولذكرالله أكبر
Diriwayatkan dari Kumail bin Yizad, bahwa ia keluar dengan Ali Abi
Thalib radhiyallahu`anhu (ra.). Dalam perjalanan itu Ali menoleh ke
kuburan lalu berkata, “Wahai penghuni tempat yang menyeramkan, wahai
penghuni tempat penuh bala`, bagaimana kabar kalian saat ini? Maukah
kalian kuberitahu kabar dari kami: harta-harta kalian telah dibagi-bagi,
anak-anak kalian telah menjadi yatim, dan istri kalian telah dinikahi
oleh orang lain. Kini, maukah kalian memberi tahu tentang kabar yang
kalian miliki?”
Kemudian Ali menoleh pada Kumail dan berkata, “Wahai Kumail, seandainya mereka diizinkan menjawab mereka akan mengatakan, ‘Sebaik-baik bekal adalah takwa.’
Ali menangis. Lantas, kembali berkata, “Wahai Kumail, kuburan itu adalah kotak amal, dan di kala kematian, kabar dari isi kotak amal itu akan menghampirimu.” (Al Hasan bin Bisyr Al-Aamidiy, Kanzul `Ummaal, Juz III, hal.697, Maktabah Syamilah).
Kemudian Ali menoleh pada Kumail dan berkata, “Wahai Kumail, seandainya mereka diizinkan menjawab mereka akan mengatakan, ‘Sebaik-baik bekal adalah takwa.’
Ali menangis. Lantas, kembali berkata, “Wahai Kumail, kuburan itu adalah kotak amal, dan di kala kematian, kabar dari isi kotak amal itu akan menghampirimu.” (Al Hasan bin Bisyr Al-Aamidiy, Kanzul `Ummaal, Juz III, hal.697, Maktabah Syamilah).
PEMILU DAN PEMIMPIN YANG AMANAH
الحمد لله الذى حثنا على الوحدة و الأخوة. أشهد أن لا إله
إلا الله وحده لاشريك له الملك الحقّ المبين. وأشهد أن محمّدا عبده ورسوله
خاتم الأنبياء والمرسلين. اللهمّ صلّ وسلّم وبارك على سيدنا محمّد وعلى أله
واصحابه أجمعين. أمّا بعد , فياعبادالله, أوصيكم وإيّاي بتقوى الله وطاعته
لعلكم ترحمون.قال الله تعالي في القران الكريم وهو اصدق القائلين:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
Hadirin, Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah!
Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 sebentar lagi digelar, yaitu sekitar
satu bulan ke depan. Penyelenggaraan Pemilu tahun ini, merupakan kali
keempat dalam Orde Reformasi atau pasca Orde Baru. Pemilu sejatinya
menjadi ajang pemuliaan martabat manusia, sebab lewat mekanisme
demokrasi, dapat dipilih pemimpin-pemimpin yang berkualitas, baik untuk
pemilihan legislatif (Pileg) di DPR/DPRD dan DPD, ataupun pemilihan
eksekutif, yakni pemilihan presiden dan wakil presiden (Pilpres), yang
dilaksanakan setelah pemilihan legislatif. Di pundak merekalah
bergantung nasib jutaan rakyat Indonesia. Melalui mereka, impian
kesejahteraan rakyat Indonesia ini, diharapkan dapat menjadi kenyataan.
Sayangnya, sistem seleksi kepemimpinan lewat mekanisme demokrasi
Pemilu di Indonesia, terkadang mengalami disorientasi. Pemilu sering
dinilai gagal untuk mencapai tujuan utamanya, yaitu menghasilkan
pemimpin-pemimpin berkualitas, yang mampu memimpin dan mengelola negara
demi kesejahteraan rakyat. Demokrasi alih-alih bermetamorfosa menjadi
sistem politik “dagang sapi”, yang sangat transaksional. Dalam konteks
ini, menurut Dr. Solatun Dulah Suyati, M.Si dalam karya terbarunya
terbitan Januari 2014, sistem ini telah mengabaikan kapasitas,
integritas dan kapabilitas moral dan pengetahuan calon pemimpin. Karena,
yang dibutuhkan calon pemimpin dalam sistem politik “dagang sapi” ini
adalah popularitas dan kemampuan ekonominya yang kuat, bukan lagi
kapasitas, integritas dan kapabilitas kepribadiannya. Demokrasi di
Indonesia diakuinya menjadi proses transaksional dan proses
industrialisasi politik yang paling kapitalistik di dunia, bahkan
melampaui praktik yang pernah ada di Amerika Serikat.
Sidang Jum’at yang Berbahagia!
Untuk itu, pada khutbah kali ini, Khatib akan mengulas sedikit
mengenai bagaimana memilih pemimpin dalam konsepsi Islam. Kriteria apa
yang harus dimiliki seorang pemimpin? Diharapkan tema ini menjadi
semacam pencerahan bagi kita semua, dalam memilih pemimpin pada pesta
politik besok 9 April 2014. Nabi Muhammad lahir ke dunia, untuk
menggenapkan misi suci yang telah dibawa para nabi dan rasul sebelumnya.
Allah telah menurunkan risalah yang satu ini, untuk memimpin dan
membimbing manusia di segala zaman. Perbedaan bahasa dan budaya, serta
tantangan lingkungan di setiap masa, tidak dapat menyimpangkan
nilai-nilai universal Islam yang dibutuhkan manusia untuk mencapai
kebahagiaan di dunia dan akhirat. Nilai-nilai universal itu, antara
lain: mengesakan Allah Sang Pencipta (tauhid), menegakkan keadilan,
menebarkan kedamaian dan kebaikan, serta mencegah kemungkaran dan
penindasan. Untuk menjalankan misi yang berat ini, maka diperlukan
karakter manusia yang kokoh integritas dan kepribadiannya, sebagaimana
tercermin dalam sifat-sifat wajib Nabi yang empat, yaitu shidq atau jujur, amānah atau dapat dipercaya, fathānah atau cerdas, dan tablīgh atau komunikatif dalam istilah manajemen modern.
Karena keterbatasan waktu, fokus khutbah kali ini adalah tentang karakter amānah
atau dapat dipercaya. Apa itu amanah? Bagaimana Islam bicara tentang
amanah? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang harus diajukan. Terma “amanah”
sesungguhnya merupakan istilah bahasa Arab yang telah mengalami
pengindonesiaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ditemukan
dua kata yang menunjuk makna “amanah” dalam bahasa Arab, yaitu amanah
atau amanat. “Amanah” dapat diartikan sebagai: pesan yang dititipkan
kepada orang lain untuk disampaikan; keamanan dan ketenteraman; atau
kepercayaan. Sedangkan “amanat” mengandung arti: sesuatu yang
dipercayakan atau dititipkan kepada orang lain; bisa berarti pesan,
nasihat atau petuah yang baik dan berguna dari orangtua; atau bisa juga
bermakna perintah dari atasan atau wejangan dari seorang pemimpin.
Sedangkan dalam bahasa Arab, “amanah” merupakan kata benda dari Amuna-Ya’munu-Amnan wa Amanatan, yang berasal dari akar kata Hamzah, Mim dan Nun. Di dalam Kamus Mu’jam Maqayis al-Lugah
disebutkan bahwa kata “amanah” memiliki dua makna, yaitu lawan dari
kata “khianat”, yang berarti ketenangan atau ketenteraman hati; dan juga
bisa berarti al-tasdiq atau pembenaran.
Hadirin Sidang Jumah Rahimakumullah!
Dari akar kata yang sama dengan amanah, juga muncul kata “Iman” dan
“aman”. Artinya, amanah itu terkait dengan keimanan, bahkan keimanan
menjadi dasar bagi suatu amanah. Di dalam Musnad Ahmad ibn Hambal Juz
III ditemukan hadis لاَ إِيمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَه (Tidak ada
keimanan bagi orang yang tidak memiliki amanah). Ini pula yang dimaksud
Q.S. al-Mu’minun: 1-8 bahwa salah satu ciri orang beruntung adalah
Mukmin yang memelihara amanah yang dipikulnya:
tûïÏ%©!$#ur öNèd öNÎgÏF»oY»tBL{ öNÏdÏôgtãur tbqããºu ÇÑÈ
Amanah yang berdasar keimanan itu pada gilirannya dapat melahirkan
rasa aman dan keamanan. Ragib al-Isfahani dan Farid Wajdi sepakat bahwa
amanah itu melahirkan Tu’maninat-un-nafs (ketenteraman jiwa) dan sukun-ul-qalb
(ketenteraman hati). Oleh karena itu, wajar kalau Rasulullah dalam
hadis Bukhari menyebutkan bahwa apabila amanah tersia-siakan, tidak
ditunaikan, maka akan datang suatu kehancuran yang melahirkan rasa
ketidakamanan.
إِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ، قَالَ:
كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ الأَمْرُ
إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.
“Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah saat kehancurannya.
Sahabat bertanya: Bagaimana bentuk penyia-nyiaan amanah itu? Rasul
menjawab: Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten,
maka tunggulah saat kehancurannya” (H.R. Bukhari).
Hadirin Yang Berbahagia!
Amanah menempati posisi strategis dalam syariat Islam, bahkan dalam suatu sistem pemerintahan. Rasulullah yang mendapat gelar Al-Amin,
yaitu orang yang terpercaya, menegaskan bahwa amanah menjadi salah satu
pembeda kaum muslim dengan kaum munafik. Dalam hadis Muttafaq ‘Alaih,
Rasul bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ.
“Tanda-tanda munafik itu ada tiga: apabila bicara, berdusta; apabila
berjanji mengingkari; dan apabila dipercaya (amanah), berkhianat”.
Rasulullah sendiri telah memperingatkan kaum Muslim agar tidak
sembarangan memberikan amanah (kepercayaan) kepada orang lain, terutama
apabila ia adalah sanak familinya. Sabda Rasul: “Barangsiapa yang
mengangkat seseorang (untuk suatu jabatan) karena semata-mata hubungan
kekerabatan dan kedekatan, sementara masih ada orang yang lebih tepat
dan ahli daripadanya, maka sesungguhnya dia telah melakukan
pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman”
(H.R. al-Hakim).
Lebih jauh, Rasulullah dalam Sahih Muslim Juz III, tidak mau
memberikan amanah kepada Abu Dzarr al-Gifari ketika meminta suatu
jabatan, bahkan Rasul mengatakan bahwa engkau terlalu lemah untuk posisi
tersebut.
عَنْ أَبِي ذَرِّ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ أَلاَ
تَسْتَعْمِلْنِي؟ قَالَ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي ثُمَّ قَالَ
(يَا أَبَا ذَرِّ إِنَّكَ ضَعِيْفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ
الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا
وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيْهَا).
Dari Abu Dzarr, ia berkata: Saya berkata kepada Rasulullah, Wahai
Rasul, hendaklah engkau memberiku jabatan! Rasulullah kemudian menepuk
punggung saya seraya berkata, Wahai Abu Dzarr, sesungguhnya engkau itu
lemah dan sungguh jabatan itu adalah amanah, dan jabatan itu pada hari
kiamat hanyalah kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang
mengambilnya secara benar dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya”
Jamaah Jumah Rahimakumullah!
Dengan demikian, posisi Islam terhadap amanah ini sangat jelas sekali
urgensinya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kehidupan
berpolitik dan bernegara. Banyak dijumpai dalam al-Qur’an, ayat-ayat
yang menyuruh melaksanakan amanah dengan sebaik-baiknya. Dalam Q.S.
al-Nisa: 58 misalnya menyebutkan:
* ¨bÎ) ©!$# öNä.ããBù’t br& (#rxsè? ÏM»uZ»tBF{$#
#n<Î) $ygÎ=÷dr& #sÎ)ur OçFôJs3ym tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# br&
(#qßJä3øtrB ÉAôyèø9$$Î/ 4 ¨bÎ) ©!$# $KÏèÏR /ä3ÝàÏèt ÿ¾ÏmÎ/ 3 ¨bÎ)
©!$# tb%x. $JèÏÿx #ZÅÁt/ ÇÎÑÈ
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di
antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah
memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah
adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.
Meskipun ayat tersebut turun dalam masalah ‘Usman bin Talhah
al-Hujubi tentang kunci Ka’bah yang diminta oleh al-‘Abbas agar dia yang
memegangnya, kemudian Allah menurunkan ayat tersebut sebagai perintah
agar memberikan amanah kepada orang yang berhak, namun menurut Prof.
Wahbah al-Zuhaili dalam al-Tafsir al-Wasit Juz I, ayat tersebut
tetap berlaku bagi setiap orang agar melaksanakan amanah yang menjadi
tanggungannya, baik kepada khalayak maupun kepada individu.
Pada ayat lain, meskipun tidak menggunakan kata kerja perintah secara
langsung seperti pada ayat di atas, tetapi tetap mengandung perintah
untuk melaksanakan amanah, karena menggunakan fi’il mudari yang disertai huruf lam perintah, yaitu terdapat dalam QS. al-Baqarah: 283.
* Ïjxsãù=sù Ï%©!$# z`ÏJè?øt$# ¼çmtFuZ»tBr& È,Guø9ur ©!$# ¼çm/u
“Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya”.
Hadirin! Demikianlah amanah sangat penting posisinya dalam
segala kehidupan manusia, karena tanpa amanah, berbagai macam aturan,
undang-undang dan sebagainya tidak dapat terlaksana dengan baik. Oleh
karena itu, wajarlah jika Allah memberikan amanah sebagai suatu bentuk
ketaatan. Amanah tidak hanya terkait dengan aspek diniyah seperti
ibadah, tapi juga terkait dengan aspek duniawi seperti jabatan dan
kekuasaan. Hal ini terkait dengan kondisi tahun politik 2014, di mana
kita dihadapakan pada banyak pilihan Caleg-caleg, yang fose dan fotonya
terpampang hampir di setiap sudut jalan protokoler, bahkan di gang-gang
sekalipun. Semoga khutbah ini dapat memberi pencerahan bagi kita untuk
memilih calon-calon pemimpin bangsa yang amanah, karena kita tidak salah
memilih. Ingat! Jika kita tidak memilih pemimpin yang amanah, maka
tunggulah saat kehancuran bangsa ini.
بارك الله لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
KHUTBAH KEDUA:
الحمد لله الذي أكمل لنا ديننا وأتم علينا نعمته ورضي لنا
الإسلام ديناَ. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لاشريك له وأشهد أن محمّدا
عبده ورسوله. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله واصحابه أجمعين.
أما بعد: فياأيهاالمسلمون الكرام, إتقوا الله حق تقاته ولا تموتنّ إلا
وأنتم مسلمون.
Hadirin, rahimakumullah! Pada khutbah kedua ini, marilah kita memohon
kepada Allah, agar kita selaku bangsa diberi kekuatan iman oleh Allah
untuk memilih calon-calon pemimpin bangsa yang memiliki sifat-sifat
kenabian, yang salah satunya adalah berkarakter amanah. Amin ya Rabbal
alamin!
إن الله وملاءكته يصلون علي النبي. ياأيهاالذين أمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما. اللهم صل علي سيدنا محمد وعلي أل سيدنا
محمد والحمد لله رب العالمين. اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين
والمؤمنات الأحياء منهم والأموات. إنك سميع قريب مجيب الدعوات, ويا قاضي
الحاجات. اللهم أعز الإسلام والمسلمين, وأصلح ولاة المسلمين, وألف بين
قلوبهم وأصلح ذات بينهم وانصرهم علي عدوك وعدوهم, ووفقهم للعمل بما فيه
صلاح الإسلام والمسلمين. اللهم لاتسلط علينا بذنوبنا من لايخافك
ولايرحمنا, يا أرحم الراحمين. ربنا أتنا في الدنيا حسنة وفي الأخرة حسنة
وقنا عذاب النار. والحمد لله رب العالمين.
عباد الله, ان الله يأمر بالعدل ولإحسان وإيتاء ذي القربي
وينهي عن الفحشاء والمنكر والبغى, يعظكم لعلكم تذكرون ولذكر الله أكبر. أقم
الصلاة !
Langganan:
Postingan (Atom)