Minggu, 09 Februari 2014

Serial Drama: "POJOK MASJID"

Seperti biasa setelah sholat Maghrib berjamaah, Kaji Budi, Indro, Kasino,  Dono, Ustadz Ishari dan Gus Bejo duduk bersama di Kantor Takmir yang juga difungsikan sebagai Basecamp pemuda bersarung (sebutan remaja masjid.red). Terkadang sebatas mengobrol, rebahan, diskusi atau berlatih ‘Banjarian’—sebutan memainkan alat terbang al-Banjari – untuk persiapan jika ada undangan dari luar atau persiapan lomba.
Dan ketika itu, terjadilah diskusi kecil-kecilan di antara mereka.
Kaji Budi: “Coba perhatikan, Masjid kita bagus ya bro!”
Indro: ‘Oh ya jelas tho Ji, lhawong hampir tiap tahun setiap dana cair dari hasil panen Tebu, Masjid ini diper-Cantik bangunannya, iyo tho?
Kaji Budi: “Sippp, betul sekali ndro.”
Kasino: “Kalo menurutku ya bro, Masjid ini tidak sekedar bagus lho, Masjid kita ini buuuagus, indah dan megah bro. Ini menurutku bro, ndak tahu kalau menurut Mas Dhani dan Mas Anang.
Dono: “Hahaha, gaya lu Kaaas..Kas! Kayak juri Indonesian Spidol saja! Hahaha.. Semuapun tertawa.
Gus Bejo: “Zaaa...za..za, saya setuju sekali dengan elu Kas, Masjid kita ini bagus, indah dan megaaaaah. Yach, kita ucapkan terimakasih saja buat pengurus Masjid ini yang sudah berupaya memakmurkan dan memperbagus bangunan masjid ini.
Kaji Budi: ”Yak, bethul, betul, betul. (Gaya Upin Ipin). Kalo begitu kita musti berdoa sajaaa, mudah-mudahan pengurus Masjid ini terus memperbagus bangunan Masjid ini biar tambah megaaaaaah!” hehehe...
Gus Bejo: “Nggeh, silahkan berdoa, tapi sampean-sampean ini sebagai penggerak dan pimpinan Jamaah “Pengguncang Kampung” kudu terus semangat lho ya, semangat memakmurkan masjid ini, semangat dan semangat.
Kaji Budi: “Se..se..se...se’! Maksudnya Jamaah “Pengguncang Kampung” niku pripun (itu apa) Gus?”
Gus Bejo: “Loooh, apa sampean-sampean ini ndak sadar kalau tiap kamis malam Jumat itu membikin telinga orang-orang sekampung ini guncang karena bunyi pukulan terbang sampean yang ndak karu-karuan itu?” Hahaha. Tapi beruntung ada suara merdu Kaji Budi yang melantunkan solawat atas Nabi, jadinya suara terbang yang ndak karu-karuan itu bisa sedikit terminimalisir. Hahaha.
Kaji Budi: ”Lah terus nopo hubungane (apa hubungannya) pembangunan Masjid sama rasa semangat kita dalam bersholawat Gus?”
Gus Bejo: “Ngene lo dulur, pada waktu jamaah “Pengguncang Kampung” ini mulai berdiri tanggal 15 April 2013, tepatnya kurang lebih setahun yang lalu, Pak Takmir pernah tho memberi janji kepada kita bakal membelikan Alat terbang Banjari kalo dah dapat dana dari Panen Tebu?” “Iya tho?”
Iya.. iya..ya bener! Jawab Dono, Kasino dan Indro serempak.
Dono: “Oh tentu kita ndak lupa itu...” Sahut Dono penuh semangat.
Kaji Budi: “Oh ya, saya juga baru ingat, tapi saya masih belum mudeng (faham) hubungannya dengan yang tadi Gus?”
“Iya Gus, kita juga belum mudeng.” Jawab Dono, Kasino dan Indro serempak.
Gus Bejo: “Jadi begini, kenapa dulu itu Pak Takmir tidak langsung membelikan alat terbang banjari kepada Remaja masjid itu karena pada waktu itu belum ada dana. Jadi, hanya bisa menjanjikan bakal membelikan kalau sudah ada dana dari hasil panen Tebu.”
Kaji Budi: “Lah..laaah, berarti bagus dong itu, sekarang itu dah panen Tebu, iya tho? Berarti sebentar lagi REMAS dah punya alat terbang Banjari sendiri, ndak pinjem lagi. Justeru itu bakal nambah semangat Gus.”
“Bethul...bethul...bethul. Yesss, kita punya alat sendiri.” Jawab Dono, Kasino dan Indro serempak.
Gus Bejo: “Hehehe, Gus’e iki durong mari oleh’e njelasno (belum selesai menjelaskan), dengarkan dulu tho..., justeru dari sini nanti saya khawatir muncul rasa kurang semangat dari diri kalian karena tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan.”
Dono: “Loh memangnya kenapa Gus?”
Gus Bejo: “Oke saya jelaskan, tapi jangan kecewa lo ya...?”
“Oke Gus, siip!” Jawab mereka serempak.
Gus Bejo: “Ya, Jadi begini... kemarin saya sudah sempat menanyakan atau menagih janji ke Pak Takmir dan beliaunya memberi jawaban begini, “Iya, saya dulu sudah janji ke kalian untuk membelikan alat terbang Banjari, tapi gimana ini ya... Rego Tebu taon iki Ajor rek, dadine gak isok nukokne Alat banjari iki, polane rencanane duite bakale digawe dandani Payon Kantor Takmir ambe’ Payon’e gedung TPQ.” (Harga jual Tebu sekarang hancur, jadi gak bisa belikan alat terbang Banjari, karena dananya nanti dipakai buat teras kantor takmir dan teras TPQ). Jadi begitu...”
Kaji Budi: “Haduuuh, lemes.. Berarti Doa saya tadi salah dong Gus? Seharusnya, berdoanya mudah-mudahan pembangunannya ditunda dulu, biar kita punya alat sendiri dan ndak pinjem lagi.”
Gus Bejo: “Lho zaaa, mulai ndak semangat... Ya doamu tadi itu ndak salah kok. Masjid yang bagus, siapa yang tidak suka? Masjid yang indah, nyaman siapa yang tidak suka? Masjid yang Megah siapa yang tidak suka? Semua pada suka tho?”
Kaji Budi: “Iyaa... tapi apa ndak ada sisa dana buat beli alat itu?” Tanya Kaji Budi penuh harap.
Gus Bejo: “Wah ya ndak tahu, mudah-mudahan ada...hehehe.”
“Aamiin!” Jawab mereka serempak.
Gus Bejo: “Yach, jadi intinya masjid itu bolehlah diper-Cantik, diper-Ganteng, diper...apalagi? O ya, diperbagus, tapi kita musti waspada jangan sampai kebablasan. Jangan sampai masjid dibangun hanya untuk Apik-api’an, Cantik-cantikan, ganteng-gantengan, artinya masjid itu dibangun hanya untuk bermegah-megahan. Ndak baik itu... sama sekali ndak baik dan ndak perlu.”
Mendengar obrolan ini, Ustadz Ishari yang dari tadi terlihat sibuk baca Kitab, akhirnya angkat bicara.
Ustadz Ishari: “Nggeh, saya sepakat dengan Gus Bejo... bermegah-megahan dalam membangun Masjid itu ndak baik.”
Kasino: “Loh, apakah maksud panjenengan berarti pengurus takmir sekarang itu lebih mementingkan pembangunan raga daripada jiwa tadz?”
Ustadz Ishari: “Loh, ndak boleh su’udzon dulu, saya cuma mengingatkan saja agar kita semua sebagai generasi penerus tetap waspada jangan sampai kebablasan dalam pembangunan masjid, lebih-lebih hanya untuk bermegah-megahan, bukan begitu Gus Bejo?”
Gus Bejo: “Yak, betul… Monggo dilanjut lagi ngajinya Ustadz!”
Ustadz Ishari: “Yak saya teruskan, tapi jangan lari ya…?”
“Hahaha…” Semuapun tertawa.
Ustadz Ishari: ”Yak jadi, Masjid menurut pendapat saya seharusnya menjadi tempat paling afdhol bagi semua muslim untuk berkeluh-kesah, berinteraksi batin dengan Sang Khalik, dan bersimpuh menyadari betapa kecilnya diri kaum muslim dihadapan Sang Maha Dari Segala Yang Agung. Masjid, bukanlah tempat yang justru digunakan untuk menunjukkan bahwa diri kita ini lebih dari yang lain dalam segala hal, bahkan dalam hal lebih hebat tingkatan ibadah kita sekalipun. 
Semangat untuk membangun masjid menurut pendapat saya tidak hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa kita memiliki tempat ibadah bila dibandingkan dengan kelompok ataupun kaum lainnya. Apalagi apabila didasari semangat bahwa masjid hanya merupakan proyek mercusuar yang entah kecil ataupun besar dilandasi sikap pamer bahwa lingkungan kita memiliki tempat ibadah yang lebih megah daripada lingkungan lainnya.
Semangat tersebut sama sekali sangat mencederai niat ikhlas kita dalam membangun masjid. Kita sejatinya bukan membangun masjid demi kepentingan umat, namun sebenarnya lebih didasari oleh sikap pamer kemampuan kita. Padahal rasulullah mengingatkan dengan sangat tegas:
Anas mengatakan, “Banyak orang yang akan bermegah-megahan dalam mendirikan masjid, tetapi mereka tidak memakmurkannya melainkan sedikit” [HR Bukhari]
Aku tidak menyuruh kamu membangun masjid untuk kemewahan (keindahan) sebagaimana yang dilakukan kaum Yahudi dan Nasrani. (HR. Ibnu Hibban dan Abu Dawud).
Benar, sekali bahwa Allah sangat menyukai keindahan, kebersihan dan kerapian. Tidak salah memang jika kita menghias dan memperindah Baitullah.
Rasulullah Saw menyuruh kita membangun masjid-masjid di daerah-daerah dan agar masjid-masjid itu dipelihara kebersihan dan keharumannya. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Namun perlu diingat, perilaku berlebih-lebihan, niatan pamer, bahkan pemborosan adalah perilaku yang sangat tidak disukai oleh Allah.
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” [Al Israa’:26-27]
Bahkan dalam menghias masjid pun, Khalifah Umar dengan tegas menyatakan bahwa keutamaan masjid adalah mampu memberikan perlindungan yang memadai bagi para jamaah ketika berjamaah, bukan menghiasnya berlebihan sehingga mengganggu kekhusukan ibadah kita.
Umar menyuruh membangun masjid dan berkata, “Lindungilah manusia (yang berjamaah di dalamnya) dari hujan. Jangan sekali-kali diwarnai merah atau kuning karena hal itu dapat menyebabkan orang-orang tergoda (tidak khusuk).” [HR Bukhari]
Masjid yang sederhana namun nyaman untuk dikunjungi, makmur, bersih, sehat, penuh dengan kegiatan syiar yang cerdas merupakan satu hal yang jauh lebih baik menurut saya ketimbang Masjid yang besar dan megah namun membuat kita menjadi sebagian umat yang suka menengadahkan muka, membusungkan dada dan lupa diri, apapun alasannya. Jadi begitu.
Gus Bejo: Wah mantab sekali ustadz, yak jadi intinya kita saling mengingatkan saja. Seperti yang sudah dijelaaskan di atas, masjid itu bolehlah diper-Cantik, diper-Ganteng, diper...apalagi? O ya, diperbagus, tapi kita musti waspada jangan sampai kebablasan. Jangan sampai masjid dibangun hanya untuk Apik-api’an, Cantik-cantikan, ganteng-gantengan, artinya masjid itu dibangun hanya untuk bermegah-megahan. Ndak baik itu... sama sekali ndak baik dan ndak perlu.”
“Nggeh… nggeh…nggeh.’ Jawab mereka serempak.
Gus Bejo: “Dan… satu lagi pesan saya, semoga kita tetap semangat, tetap istiqomah, berlomba-lomba memakmurkan Masjid ini. Pengaosan Hari Minggu yang dibimbing Ustadz Hari ini bisa terus Istiqomah, dan juga untuk Jamaah Pengguncang Kampung pimpinan Kaji Budi melalui sholawat dan pukulan terbangnya ini juga tetap istiqomah meski alatnya hingga sekarang masih pinjem, hahaha…”
“Hahahahaha…, Oke Siap!” Sahut mereka serempak.
Ustadz Ishari: “Gkgkgkgkgk, Nggeh pun, sampun Isya’, monggo kitho sareng-sareng sholat berjamaah isya’.
Monggo…monggo!”
“Allohu ‘alam… Allohumma Sholli ‘ala sayyidina Muhammad!.”





Rabu, 16 Oktober 2013

KISAH INSPIRATIF

Assalamualaikum...

Suatu hari di tepi sungai Dajlah, Hasan al-Basri melihat seorang pemuda duduk berdua-duaan dengan seorang perempuan. Di sisi mereka terletak sebotol minuman. Kemudian Hasan berbisik dalam hati, “Alangkah buruk akhlak orang itu dan alangkah baiknya kalau dia seperti aku!” Tiba-tiba Hasan melihat sebuah perahu di tepi sungai yang sedang tenggelam. Lelaki yang duduk di tepi sungai tadi segera terjun untuk menolong penumpang perahu yang hampir lemas karena karam. Enam dari tujuh penumpang itu berhasil diselamatkan. Kemudian dia berpaling ke arah Hasan al-Basri dan berkata, “Jika engkau memang lebih mulia daripada saya, maka dengan nama Allah, selamatkan seorang lagi yang belum sempat saya tolong. Engkau diminta untuk menyelamatkan satu orang saja, sedang saya telah menyelamatkan enam orang.” Bagaimanapun Hasan al-Basri gagal menyelamatkan yang seorang itu. Maka lelaki itu bertanya padanya. “Tuan, sebenarnya perempuan yang duduk di samping saya ini adalah ibu saya sendiri, sedangkan botol itu hanya berisi air biasa, bukan anggur atau arak.” Hasan al-Basri tertegun lalu berkata, “Kalau begitu, sebagaimana engkau telah menyelamatkan enam orang tadi dari bahaya tenggelam ke dalam sungai, maka selamatkanlah saya dari tenggelam dalam kebanggaan dan kesombongan.” Lelaki itu menjawab, “Mudah-mudahan Allah mengabulkan permohonan tuan.” Semenjak itu, Hasan al-Basri semakin dan selalu merendahkan hati bahkan ia menganggap dirinya sebagai makhluk yang tidak lebih daripada orang lain.

semoga bisa diambil manfaat dari sebuah kisal ini..

Belanda vs Turki

Belanda vs Turki
---
Belanda atawa Nederland, finalis Piala Dunia 2010, sesungguhnya sering diejek sebagai kesebelasan anak-anak keju oleh musuh bebuyutannya; Jerman dan Perancis. Anak-anak keju adalah ejekan yang bermakna bocah-bocah lembek. Ejekan yang selalu muncul saat perang antar suporter kedua kesebelasan. Sejak kapan ejekan ini muncul? Saya tak tahu asbabul wurudnya. Tampaknya ada kesinambungan dengan sejarah ketiga negara ini. Kerajaan Belanda pernah dijungkalkan Napoleon di abad 19. Kemudian Belanda menjadi sansak tak bergerak pasukan Nazi Jerman, hingga Ratunya harus mengungsi ke Inggris. Herannya, jika di Eropa sana Belanda jadi bulan-bulanan, mengapa di Nusantara bisa berkuasa lebih dari tiga abad?

Itu pertanyaan yang butuh jawaban bersifat permenenungan, saya kira. Lalu apa maksud tulisan ini? Kita cermati polarisasi pemain di timnas Belanda. Ada pluralitas di dalam tim yang dirawat dari generasi ke generasi: bule bermata biru seperti Arjen Robben & Dirk Kuyt, keturunan Afrika seperti Patrick Kluivert, blasteran macam Ruud Gullit, dari wilayah protektorat kayak Clarence Seedorf, anak imigran seperti Khaled Bolahrouz dan Ibrahim Affelay, dlsb.

Sebenarnya ini persis realitas yang diterapkan oleh Londho saat menjajah; rekrut tenaga pribumi, satukan, ikat, pergunakan sebaiknya. Puncaknya strategi adu domba karena ongkosnya murah dan irit.

Dinihari tadi timnas Belanda menghadapi Turki. Ini sejarah yang berulang meski di lapangan hijau. Beberapa abad silam, kedua negara ini baku bunuh, langsung maupun tidak. Saat Belanda mencapai selat Malaka dan berusaha mengangkangi perdagangan di Timur Nusantara, Kesultanan Aceh meminta bantuan Sultan Turki. Wujudnya: ratusan marinir Turki Usmani mendarat di Aceh. Sebagian besar pasukan kemudian mendarmabaktikan hidupnya di Aceh hingga beranakpinak. Konon, pria-wanita rupawan berhidung mancung bermata biru yang menjadi penduduk Lhamno adalah anak cucu dari marinir Turki ini. Versi lain; keturunan Portugis! Kebenarannya? Allahu A'lam.

Di Jawa, Belanda dan Turki juga bertarung, meski tidak secara langsung. Perang Diponegoro adalah buktinya. Sang pangeran meminta legitimasi kekuasaan kepada Sultan Turki hingga kemudian memakai gelar Amirul Mukminin Herucokro Sayyidin Panatagama Khalifatullah Ing Tanah Jawi. Lebih dahsyat, dalam hal penggunaan taktik, formasi tempur, hingga hierarki militer beserta gelarnya, Pangeran Diponegoro mengadopsi sistem Turki. Mulai gelar "Pasya"/"Basa" bagi panglima perang, pasukan khusus pengawal sang pangeran bernama Burjumungah diilhami dari Arkio-Bulkio-nya Turki, hingga pataka dan warna warni sorban & jubah juga dipengaruhi corak Turki.

Siapa yang mempengaruhi pandangan Pangeran Diponegoro? Namanya Haji Badaruddin. Ia adalah elit militer di kesultanan Ngayogyakarto Hadiningrat. Ia pergi haji, kemudian singgah dan belajar sejenak di Turki. Saat pulang ia membawa sebuah kitab perang karya Haji Bektasy, pendiri Tarekat Bektasyiyah, tarekat yang diwajibkan bagi seluruh anggota Janissary, kopassusnya Turki Usmani. Jika Janissary menggunakan "kurikulum" Tarekat Bektasyiyah, maka Pangeran Diponegoro dan pasukannya terikat dengan Tarekat Syatthariyah dan Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. 
By. Rijal Pakne Avisa

Rabu, 13 Maret 2013

PERBINCANGAN SEORANG IBU DENGAN PUTRINYA

Anak : Ibu, boleh tanya gak?

Ibu : Tentu boleh. Mau tanya apa anakku?

Anak : Mmm... Dulu sebelum Ibu menikah sama bapak, apa pacaran terlebih dahulu?

Ibu : Gak anakku. Ibu sama bapakmu gak pernah pacaran.

Anak : Terus ibu dan bapak dijodohin gitu?

Ibu : Gak juga kok.

Anak : Lalu gimana ceritanya ibu dan bapak bisa ketemu?

Ibu : Anakku, soal rezeki, jodoh dan ajal itu adalah hak Allah. Jika Dia telah berkehendak, tak ada suatu hal apapun yang sulit bagi-Nya.

Anak : Maksud ibu?

Ibu : Begini. Walaupun ibu dan bapakmu tidak pernah kenal sebelumnya, ternyata Allah mempunyai cara untuk mempertemukan ibu dan bapakmu.

Anak : Tapi kok ibu sama bapak bisa saling mencintai dan menyayangi seperti sekarang? Padahal sebelumnya tidak saling kenal?

Ibu : Anakku. Jika sebuah keluarga dibangun dengan niat ibadah dan didasari dengan ketulusan semata-mata karena Allah, maka cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya seiring perjalanan waktu.
Dan semakin lama cinta itu semakin tumbuh mekar mengembang. Kamu lihat sendiri bagaimana ibu dan bapakmu kan?

Anak : Makanya aku tanya sama ibu. Seneng banget deh ngeliat ibu dan bapah mesra terus. Oya bu, kalau gitu aku tak perlu susah-susah mencari jodoh dong?

Ibu : Tetap harus berusaha anakku. Berusahalah menjadi seorang yang berkepribadian baik. Jangan lupa mintalah kepada-Nya dalam setiap sujudmu. Kamu tak harus kesana kemari untuk mengejar pasanganmu. Yakinlah jika sudah waktunya, selalu ada cara bagi Allah untuk mempertemukanmu ­dengan pasanganmu.

Subhanallah..

BELAJAR AKHLAK DARI KELEDAI

Di dalam Al Qur'an terdapat beberapa ayat yang menyebutkan nama Luqman Hakim.
Allah SWT berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya:
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
(QS. Luqman: 13).

Dalam sebuah riwayat yang diceritakan, pada suatu hari Luqman Hakim mengadakan perjalanan ke luar kota bersama putranya sambil menaiki seekor keledai. Pada saat ia masuk ke dalam pasar, anaknya mengikutinya dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, sebagian orang berkata,
"Lihat, itu orang tua yang tidak tahu diri, dia enak-enakan naik keledai, sementara anaknya dibiarkan berjalan kaki."

Naik Keledai.
Luqman kemudian berhenti sejenak sambil memperhatikan perkataan orang yang didengarnya.
Kemudian Luqman turun dari keledainya, lalu diletakkan anaknya di atas keledainya. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya kembali.

Di tengah perjalanan, kembali beberapa orang melihatnya. Kemudian mereka pun usil dengan mengomentari keberadaan Luqman.
"Lihat, orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya enak-enakan menaiki keledai, sungguh kurang ajar anak itu," kata orang tersebut.

Mendengar kata-kata itu, Luqman kembali berhenti sebentar. Ia kemudian ikut menaiki keldai itu bersama anaknya. Namun demikian beberapa orang yang lain kembali mengoloknya.
"Lihat itu, dua orang menaiki seekor keledai, sungguh tidak punya rasa kasihan menyiksa keledai itu," kata orang yang lain.

Luqman sedikit kesal dengan komentar orang-orang yang ditemuinya.
Ia merasa tidak pernah merasa benar di mata orang-orang itu. Tetapi, untuk kesekian kalinya, Luqman dapat menerima ejekan itu.

Ia kemudian berhenti lagi dan turun dari keledai bersama anaknya. Luqman dan anaknya berjalan kaki sedangkan keledainya hanya dituntun saja. Akan tetapi belum jauh ia melangkah, ungkapan miring kembali diterimanya.
"Sungguh dua orang aneh berjalan kaki, padahal mereka membawa seekor keledai, kenapa tidak dikendarai saja," komentar orang yang lain lagi.

Nasehat Bijak.
Luqman dapat mengambil hikmah dari komentar orang-orang tersebut.
Dirinya kemudian menasehati anaknya tentang berbagai sikap manusia dan sesuatu yang diucapkannya.

"Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan amnusia. Maka bagi ornag yang berakal, tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan hanya kepada Allah SWT saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap masalah," tutur Luqman kepada anaknya.

Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya,
"Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinan (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayaiorang), dan hilang kemuliaan hatinya (kepribadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu adalah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya."

Dalam kesempatan lain, Luqman juga berpesan kepada anaknya aga tidak menyekutukan Allah SWT, sesungguhnya ia telah berada pada kezaliman yang besar.

BALIK KE KAMPUNG HALAMAN (05 MARET 2013)

Kenangan terkhir bersama mereka sebelum balik kampung: http://www.youtube.com/watch?v=FMe7-MCnonE http://www.youtube.com/watch?v=FMe7-MCnonE